ZMedia Purwodadi

Efisiensi Anggaran, Jangan Sampai Membungkam Suara Publik

Table of Contents

  
SOROTKASUS.ID,  CIMAHI -   Katanya sedang ada badai fiskal. Katanya semua harus berhemat. Katanya efisiensi anggaran demi menyelamatkan keuangan negara dan daerah. 

Tapi pertanyaannya, apakah efisiensi benar-benar diterapkan secara adil, atau hanya dirasakan oleh mereka yang berada di lapangan?

Kami, para jurnalis, mulai merasakan dampaknya. Anggaran peliputan dipangkas, ruang publikasi menyempit, bahkan untuk sekadar mengganti biaya operasional pun terasa seperti harus mengemis. 

Padahal, kami datang bukan untuk meminta belas kasihan. Kami bekerja menjalankan profesi yang dilindungi undang-undang dan berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik.

Ada sebuah kalimat yang selalu saya ingat: satu peluru hanya mampu menembus satu kepala, tetapi satu tulisan mampu menembus ribuan bahkan jutaan pikiran. 

Itulah kekuatan pers. Tulisan bukan sekadar rangkaian kata, melainkan jembatan informasi antara pemerintah dan masyarakat.

Jika memang efisiensi menjadi kebijakan, tentu masyarakat berhak mengetahui bagaimana penerapannya. 

Apakah benar setiap kegiatan kini benar-benar tidak memiliki anggaran publikasi? Ataukah anggaran itu masih ada, hanya distribusinya yang berubah? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini wajar muncul karena keterbukaan adalah bagian dari pemerintahan yang baik.

Jurnalis bukan lawan pemerintah. Jurnalis bukan pula beban anggaran. Kami adalah mitra yang menyampaikan informasi kepada masyarakat secara berimbang. Tanpa pemberitaan, banyak program baik pemerintah yang mungkin tidak pernah diketahui publik.

Catatan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Ini adalah suara dari lapangan, suara mereka yang setiap hari membawa pena, kamera, dan idealisme. Kami tidak meminta dimanja. Kami hanya berharap profesi jurnalistik tetap dihargai sebagai bagian penting dalam demokrasi.

Karena ketika suara pers mulai dipersempit oleh keterbatasan, yang sesungguhnya kehilangan bukan hanya jurnalis. Masyarakatlah yang berisiko kehilangan akses terhadap informasi yang jujur, kritis, dan dapat dipercaya.

Sebab sejarah membuktikan, sebuah tulisan yang jujur sering kali lebih kuat daripada seribu pidato yang hanya ingin didengar.***

Posting Komentar